Solusi Rusaknya Komoditi dan Harga Hasil Tani.

Kemakmuran dan kesejahteraan petani tak lepas dari harga yang diperoleh, dan harga yang diperoleh dipengaruhi oleh berbagai hal, diantaranya adalah kerusakan barang ( penyusutan / depresiasi ) dan juga rantai distribusi ( Supply Chain Management ).

Jika kita amati untuk komoditi buah dan sayur dari petani, rantai distribusi mulai dari petani dibeli oleh tengkulak, dari tengkulak dibawa ke pengepul, dari pengepul dibawah ke pasar grosir ( buah dan sayur ), dari pasar grosir buah dan sayur didistribusikan ke pasar induk bisa jadi ke pasar induk daerah lainnya, dari pasar induk dibawah ke pasar desa, dari desa di distribusikan oleh penjual ijon atau toko eceran di desa, setelah itu baru diterima oleh konsumen terakhir ( end user ).



Begitu panjangnya rantai distribusi dari petani hingga dinikmati oleh konsumen langsung, sehingga hal ini mengakibatkan hal hal sebagai berikut:

  1. Biaya distribusi tinggi sehingga harga di petani bisa tertekan karena tingginya biaya distribusi.
  2. Kerusakan komoditi juga tinggi, sehingga membuat hasil tani kurang sehat ( fresh ) dan juga menurunnya harga dan berat / kuantitas hasil tani.

Setidaknya dua hal tersebut yang mengakibatkan baik di konsumen akhir maupun di petani mengalami kerugian, di petani harga tidak mampu bersaing dan di konsumen hasil tani juga kurang menyehatkan. Lalu apa yang bisa dilakukan?..

Membangun tata kelola perdagangan pertanian yang lebih simple atau tidak panjang yang merugikan petani dan konsumen. Dengan mengelola lini depan ( pemasaran ) dan lini belakang ( pertanian ). Diutamakan petani atau kelompok tani memiliki CRM ( Customer Relationship Management ) untuk melayani konsumen konsumen di sekitar dahulu, baru konsumen lain.

Sebagai contoh adalah konsumen cabe merah. Setidaknya petani memiliki database konsumen cabe merah, terutama untuk industri atau home industri seperti rumah makan, penjual sambel kemasan dan lain lain. Dan petani memproduksi atau bertani berdasarkan permintaan dari konsumen tersebut yang tidak lain adalah tetangganya sendiri. Daripada seorang penjual nasi pecel harus belanja cabe merah ke pasar yang sebenarnya cabe merah itu dari tetangganya sendiri.



Dengan begitu maka petani dapat menekan resiko kerusakan dan harga dan konsumen mendapatkan produk pertanian yang bagus, fresh dan sehat. Hal itu bisa dilakukan apabila petani memahami tentang supply chain da customer relationship management. Sehingga antara tetangga petani dan tetangga konsumen dapat tersambung dan mengurangi resiko usaha pertanian. @biizaafarm.

Bantu bagikan jika bermanfaat..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.